Glow For Indonesia Logo

WAKTU TENGAH MALAM

23/07/2016


Kemarin sore matahari terasa memudar. Yang biasanya jingga, kali ini berwarna merah kelam di atas kumparan awan-awan. Biru tidak lagi dimiliki langit sepenuhnya. Di ujung jalan sebuah taman, tinggal seorang gadis kecil di sebuah rumah bersama adiknya yang dijaga oleh tiga malaikat. Di sampingnya terhampar ladang untuk mencukupi pangan sehari-hari.

 

Suatu pagi ditengah kicauan burung yang saling bersahutan, sang gadis keluar rumah guna memetik beberapa makanan untuk dimakan. Melihat hal itu, sang adik tertarik untuk membantu sang kakak. Bergegas ia keluar rumah dan berlari ke pohon apel yang buahnya terlihat begitu menggiurkan. Semakin ia berlari, pohon itu terasa semakin jauh. Namun sekiranya ia terjatuh dan berhenti, pohon itu tidak berpindah tempat. Adik kecil ini terus mengejar pohon demi memetik apel untuk kakaknya yang sibuk dipohon lain. Beberapa kali ia jatuh bangun dan terluka. Terkadang ia memilih untuk berhenti saja, tapi badannya seperti tidak bisa dikendalikan. Hari yang cerah serasa begitu gelap seketika dengan angin panas lembab dari gurun pasir. Sambil memandangi sayap kupu-kupu yang patah berjatuhan seperti hujan, Ia menjerit ketakutan. Berserunya sekuat tenaga memanggil kakaknya tanpa sebuah jawaban.

 

Serentak langit menjadi lebih gelap dan semakin gelap. Keringat dingin terus keluar membasahi tempat ia duduk. Tidak kuat lagi rasanya ditambah dengan sakit perut yang luar biasa. Entah lapar atau perut yang terkoyak. Angin tiada lagi, tetapi suasana jadi kian dingin. Pelan-pelan terlihat sosok malaikat yang ada tiga. Dengan mata yang tajam mengelilingi seperti singa yang siap menerkam mangsa.

 

“Mimpi apa aku semalam sampai jadi begini. Sekarang semuanya tidak ada artinya.” Pohon yang dirawat sejak kecil tidak dapat dimakan buahnya. Kakak yang biasanya baik dan penyayang seolah pergi dari ku. “Di mana kesukaan yang biasa menanti bersama embun di setiap pagi? Terkadang mereka mengikuti kemana aku pergi.”

 

Aku tak sadarkan diri. Tidak ingat apa-apa ketika jam terus berdetak dengan cepat. Kepala ku jadi pusing dan berat sekali dengan nafas yang terengah-engah. Tiba-tiba, pandangan ku jadi sangat terang. Menyadari semua hal aneh yang terjadi. Ternyata tangan ku masih memegang alat tulis dengan kuat. Tidak ada jawaban yang sepertinya rela untuk ditulis. Sungguh miris. Sang pengawas terus mengawasi dengan tegap, padahal hanya ujian susulan. Andai aku belajar lebih giat. Namun, semua telah terlambat...

 

- Tri Sugiarto